Value converter adalah fase terakhir dari Lasting Lean. Yakni menciptakan sistem pengukuran untuk setiap aktivitas dan penggunaan resource agar Anda memiliki informasi kinerja menyeluruh dalam sebuah dashboard (business analytic).
Untuk merancang sistem pengukuran yang baik, Anda harus memerhatikan tiga syarat berikut ini:
Pertama, merefleksikan strategi. Sistem pengukuran yang baik harus merupakan cerminan atau turunan dari strategi. Terutama Anda sesuaikan dengan pemetaan alur bisnis (WorM) yang telah Anda buat sebelumnya. Jadi, setiap tahapan kerja dapat Anda ukur dan nilai.
Kedua, dibangun dengan filosofi botton up. Sekecil apa pun tim dalam perusahaan Anda, pastikan pengambilan keputusan, khususnya terkait dengan desain sistem pengukuran tetap memerhatikan inisiatif dari bawahan. Libatkan anggota tim Anda, maka mereka akan lebih berkomitmen pada kesepakatan bersama.
Ketiga, dapat diukur dan dikuantifikasikan. Sebab dalam bisnis, semua harus dapat dihitung. Bahkan data kualitatif pun seharusnya dikonversikan dalam bentuk kuantitatif. Sehingga, setiap pengambilan keputusan tidak akan melenceng jauh dari data yang Anda miliki.
Dalam praktiknya, sistem pengukuran terdiri atas beberapa elemen penting, diantaranya KPI (key performance indicator), satuan ukur, target, dan alat ukur. Anda bisa membuat tabel dengan memberi nama kolom sesuai dengan elemen-elemen penting tersebut.
Misalkan, ketika Anda ingin iklan di media Facebook, strateginya ialah iklan senilai Rp400 ribu per bulan, KPI-nya adalah peningkatan jumlah fans baru, satuannya adalah jumlah Like, target minimal 200 per bulan, dan alat ukurnya yakni analitik Facebook.
Setelah setting perangkat pengukuran, tahap selanjutnya adalah implementasi kegiatan operasional dengan berfokus pada target sistem pengukuran.
Data operasional tersebut merupakan bahan dasar utama evaluasi dengan cara membandingkan realisasi dengan target/standar yang Anda buat sebelumnya.
Karena itu, Anda harus mampu menangkap dan mengelola seluruh data realisasi dengan baik melalui sebuah skema sistem informasi. Secara sederhana, meliputi input data, proses analisis, lalu menghasilkan output laporan. Anda dapat melakukannya secara manual maupun menggunakan sistem komputer (software tertentu).